-->

Kamis, 09 Juli 2009

Limbuk Manuhara


MATAHARI baru separo mentingis. Tapi, kegemparan sudah terjadi. Puluhan SMS memberondong ponsel Narada. Isinya sama. Mereka komplain atas getaran tari Cangik dalam bertapanya. Seluruh jagat kena demam menari.

''Maya, ini tak bisa didiamkan,'' ujar Narada via ponsel. Tanggap, Manikmaya segera menuju garasi. Si driver yang agak liyep-liyep di-jendul-nya. ''Asyik, bos... Mau triping lagi ya?'' kata si driver sedikit slebor. Mobil berjalan ajrut-ajrutan ke pondok Narada. Dalam pertemuan singkat, Narada diminta menemui Cangik.

Eh, saat ditemui, Cangik kipat-kipat. Tangan Narada yang coba menghentikan tapanya segera ditepis. ''Jangan harap gue mo brenti kalau dewa kagak kasih gua keturunan yang kinyis-kinyis sempurna,'' teriak Cangik berkali-kali.

Narada sejenak merenung, mencoba menembus prediksi ke depan. Akhirnya, dia sebagai wakil dewata membubuhkan ACC. Seketika itu juga, Cangik berhenti menari. Dia limbung dan pingsan. Lhadalah, ujug-ujug dia jatuh dan ditangkap Parto Gecul, suami tersayang. Yahuuuu, malam ini lembur, dah, batin Parto Gecul.

Singkat kata, Cangik udah hamil bulan ke sembilan. Juru kamera Ngamarta TV, pemadam kebakaran, aparat keamanan, dukun bayi, pawang hujan, hingga pembawa kotak-kotak sumbangan dan penjual kacang rebut menyemut di sekitar kediaman Cangik. Seluruh jagat was-was menanti bayi Cangik yang keelokannya sudah dijanjikan para dewa.

Tengah malam, berbarengan dengan rembulan yang lingsir, mak broll, bayi Cangik lahir. Tak lama, dalam acara Ngamarta Breaking News, wajah Limbuk Manuhara, bayi itu, langsung menghiasi kotak kaca seantero jagat. Dan betul, hari demi hari, aura kecantikan Limbuk Manuhara kian bulat utuh. Rambutnya bergelombang, kulit mulus, bibir tipis dihiasi rambut halus. Nada bicaranya yang mendayu-dayu selalu membuat pria nggayer-nggayer. Bukan hanya fisik, Limbuk Manuhara pun menjadi langganan pemenang ajang putri-putrian. Di sekolah, dia selalu juara kelas. Kesempurnaan itu juga yang membuat Bagong, teman sekelasnya, naksir berat.

Suatu siang, saat Bagong sedang ngisis, dia bayangkan sing ora-ora. Lamun tresna kula, it is a big mistake...Abaikan dan buang di tepian jalan. Agak ndredeg, Bagong tekan tombol send. Ya, begitulah Bagong. Keberaniannya terbatas pada SMS. Bukan harta, bukan wajah, tapi keteguhan hati, modalnya. Begitu SMS Bagong berikutnya.

Tiba-tiba, Bagong merasa ada getaran di dekat pusat celananya. Drett-drett, oalah, handphone-nya. Pada layar yang berkedip-kedip ada nama Limbuk Manuhara. Bagong semringah. ''Sapa neeh?? Oalah, Bagong, ta? Wis, ra sah macem-macem!! Limbuk sudah dijodohkan sama Prince Warrior,'' kata suara di seberang sana. Blaik!! Ternyata Cangik! Bagong gemeter. Ternyata, ponsel Limbuk tertinggal di ruang tamu dan dipegang Mamah Cangik.

***

One day, sebuah bus pariwisata memasuki kampung yang dijadikan percontohan internasional. Limbuk Manuhara termasuk salah satu lady escort-nya. Kecantikannya memanah hati Pangeran Kuda Lanang. Sinyal-sinyal itu ditangkap Limbuk. Tanpa pikir panjang, Limbuh yang baru melepaskan masa ABG itu langsung hooh. Disaksikan warga, perkawinan dihelat. Mempelai putri pun diboyong ke ranah Kuda Lanang.

Di tanah yang baru, lenggak-lenggok di catwalk semakin menjadi-jadi. Bahkan Limbuk Manuhara menjadi top model. Lalu malam itu, saat ada di peraduan sendiri, Sang Pangeran menonton televisi. Ndilalah, ada gosip syur tentang Limbuk Manuhara. Sang Pangeran emosi sak dada. Baru saja Limbuk masuk kamar, plakk!!, tamparan tepat mendarat di pipi halusnya.

''Diamput!! Diomongi ngeyel! Di mana martabatmu? Peraturan di sini lain. Ketat. Tinggalkan semuanya sekarang,'' teriak Sang Pangeran. Dengan cepat, diiringi sesenggukan yang tiada habis, Limbuk packing dan go home.

Sehari, seminggu, Sang Pangeran mulai kesepian. ''Teklek kecemplung kalen, Bos. Daripada kedinginan,'' seloroh jubir kerajaan. Gayung bersambut. Welcome party pun diadakan di istana Kuda Lanang. Sebagai seorang yang biasa beraktivitas, Limbuk Manuhara sekarang seperti burung dalam sangkar emas. Hanya jendela internet tempat dia mengekspresikan diri.

Seperti waktu itu, saat Limbuk online facebook, Bagong juga online. Sesekali, dia menyunggingkan senyum membaca celoteh Bagong. Balas-balasan kalimat jenaka terjadi di antara dua insan itu melalui jendela monitor komputer. Jari-jari Limbuk kian lincah menari pada keyboard. Eh, di belakangnya berdiri Sang Pangeran yang membaca semua yang sudah dia tulis. Tangan kokoh Pangeran merebut laptop itu. Brakk, barang itu hancur berbarengan dengan pecahnya hati Limbuk. Tak berhenti sampai di situ, Sang Pangeran tega menyayat-nyayat tubuh Limbuk Manuhara dengan pisau dapur. Air mata Limbuk menetes pedih. Dan lagi-lagi, adegan go home jadi pemungkas.

Memang love is blind alias cinta itu buta (dudu Buta Cakil, lho), Sang Pangeran balik menjemput. Kali ini lengkap dengan janji hitam di atas putih bahwa Limbuk tak bakal lagi disakiti. Setengah dipaksa Cangik, dengan berat hati, Limbuk Manuhara menerima. Perasaannya kian depresi, tertekan. Kecantikannya mulai luntur digerus waktu. Sementara, Sang Pangeran kian awet muda. Dia punya banyak girlfriend di mana-mana.

Kabar itu juga yang akhirnya sampai di telinga Limbuk Manuhara. Diam-diam dan tanpa air mata, Limbuk nylintis pergi tanpa pamit, pulang. Dalam pesawat, matanya tertarik pada sebuah majalah yang menceritakan perjalanan model Miss Manohara yang tersiksa aturan yang ketat. Dia langsung SMS Pangeran, minta untuk break dulu sampai tumbuh kedewasaan dan kemandirian di antara mereka.

Cinta itu ora keliru...Ia menjadi keliru ketika cinta berubah menjadi nafsu ingin menguasai yang mutlak. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono
jawa pos minggu 26 april 2009

Senjata Pusaka Gugat


''BOOOM!' Tiba-tiba suara itu terdengar. Kepanikan melanda warga sekitar gudang senjata Ngamarta. Para ibu berteriak memanggil anak-anaknya. Sebagian lagi mencoba menyelamatkan harta benda. Bau mesiu begitu dominan menyengat.

''Delapan Enam, siaga, ada ledakan di gudang senjata," suara Gatotkaca terde­ngar di setiap HT prajurit Ngamarta. Daerah sekitar ledakan langsung dipasang police line. Densus 66 dan pasukan anti bahan peledak diturunkan.

Antareja dan Gatotkaca dengan seragam khusus menyeruak masuk gudang di te­ngah pekatnya asap mesiu. Dengan kacamata infra red, Ga­totkaca detail meneliti kondisi senjata. Dan keduanya sa­ling pandang. ''Gak usah dibesar-besarkanlah, ini kejadian biasa. Karena suhu panas saja, semuanya aman terkendali, masih pada tempatnya," ujar Gatotkaca cepat sambil berlalu di bawah todongan puluhan lensa kamera.

Dengan mobil khusus, Gatotkaca dan Antareja menuju kediaman Panglima Tertinggi Puntadewa. ''Lapor boz! Ini agak nyolowadi, Rujak Polo, Sarotama, Lading

Mustika, dan Kunto Wijayandanu raib entah ke mana," ujar Antareja sambil

kembali meneliti catatan. ''Lha terus yang barusan di breaking news?'' selidik Puntadewa. Gatotkaca hanya nyengir kuda.

Puntadewa ambil langkah cepat, dikontaknya Jimat Kalimasada untuk mendeteksi keberadaan senjata-senjata itu dan membawanya kembali. Dengan permadani terbang Jimat Kalimasada melesat.

Sementara jauh di pinggiran Ngamarta, sosok tinggi besar Rujak Polo terlihat memimpin sesama rekan persenjataan. Rujak Polo dengan emosi tinggi menegaskan bahwa ini tidak bisa didiamkan terus menerus. Juragan mereka terlalu asyik bercuap-cuap di muka ribuan pendukung demi kursi Ngamarta Satu. Para juragan harus diingatkan bahwa mereka masih punya gegaman hasil lelaku me­reka yang perlu dijamasi juga. ''Ato katakan good bye sekalian, priben?" ujar Ru­jak Polo di akhir cerita.

Senjata-senjata itu ragu dan saling tatap. Tanpa keputusan yang jelas, peserta rapat bersenjata membubarkan diri. Panah Sarotama, senjata Arjuna Berbudi dengan kaca ray ban, berbalut tuxedo plus dasi yang serasi, ditemani senjata Srikandiwati, yaitu Lading Mustika yang lincah lenggak-lenggok seksi.

Mereka berjalan ke arah Tanah Abang, tempat di mana Arjuna Berbudi cuap-cuap di depan publik pendukungnya. ''Apa pun yang terjadi, perjuangan tetap harus dilanjutkan," lantang Arjuna Berbudi semangat.

Dari samping podium, Sarotama utik-utik seragam Arjuna Berbudi yang hanya cuek kibas-kibaskan ujung kainnya. ''Boss.. nih Sarotama. Masa forget, sich?" bisik Sarotama.

Dasar Kunto Wijayandanu, ikut ngutik-ngutik dari celah bawah podium yang bolong. Sarotama dari balik kaca matanya melotot marah. Disikutnya Kunto. Kunto sedikit melengoskan badannya, mendarat di bokong Arjuna.

Lama kelamaan Arjuna Berbudi terganggu dan langsung mencengkeram senjata itu. Arjuna sesaat mengawasi Kunto Wijayandanu dan di-sibrat-kan ke lantai. Jatuhnya Kunto langsung dipapas tendangan kuat kaki Sarotama. Saling balas pukulan pun terjadi. Ada darah yang memercik, Lading Mustika mbli­rit ketakutan.

Lading Mustika lari terengah-engah sampai Hall Senayan City. Dari jauh, diamatinya Srikandi Berwibawa paparkan program di tengah ribuan perempuan. Lading Mustika pelan jalan menyeruak di tengah barisan. ''Perempuan yang baik ya seperti saya, capres yang mudheng harga cabe kriting, minyak tanah, pokoknya komplet," suara Srikandi.

Hati Lading Mustika agak sedikit gamang melihat Srikandi dalam orasinya terus mengacung-acungkan pisau produk baru yang tajam tur anti karat sepanjang pemakaiannya.

Aksi potong bawang rame-rame pun dimulai. Wujud simbolisasi ekonomi kerakyatan, bahwasannya sebuah negara diibaratkan rumah. Salah satu nyawa dari rumah adalah tetap ngebul-nya dapur. Suara itu selalu keluar dari corong, coba menghipnotis semua perempuan yang hadir. ''Bunda Srikandi, saya Lading Mustika. Jangan lupain yang lama, dong Bun," ujar Lading Mustika tepat di sisi telinga Srikandi.

Cek kemek, Lading Mustika cepat dicengkeram Srikandi dan langsung dibanting. Lading Mustika nangis sejadi-jadinya membelah kerumunan. Di pinggiran, dua sahabatnya yang telah akur, Sarotama dan Kunto menyambutnya. ''Kiranya, juragan telah lupa dengan kita,'' ucapan Sarotama diiyakan Lading Mustika.

Tidak demikian dengan Kunto yang dengan tegas menolak semuanya. "Wow, beda dengan JK. Jendral Karno gak seperti itu," tegas Kunto.

Sementara, di semenanjung Nanggroe Aceh Darussalam. JK alias Jendral Karno dalam balutan busana Aceh, berorasi di tengah-tengah eks korban tsunami. ''Bagaimana pun, tangan saya lebih cepat turun pada waktu itu, kita atasi bareng" teriak Jendal Karno.

Dengan jumawanya, tangan JK selalu memegang hulu Rencong dan sesekali mengacungkannya untuk menyemangati. Sekali waktu tepat Rencong lengah, Kunto Wijayandanu melepaskan pukulan maut. Rencong memapas dengan auranya, pukulan Kunto Wijayandanu mbalik menyerang dirinya, dadanya hitam legam.

Hasil jerih payah laku tapa yang dulunya dilakukan untuk kemaslahatan rak­yat Ngamarta sekarang tergantikan dengan sesuatu yang nisbi. Jimat Kalimasada merengkuh ketiganya naik ke permadani terbang, atas permintaan mereka diturunkan pada perkampungan-perkampungan yang masih asri dan gu­yub rukun. ''Kembalilah menjadi pusaka rakyat dan mengayomi," bisik Jimat Kalimasada. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono
jawa pos minggu 21 juni 2009

Debat Punakawan


JALANAN begitu padat merayap. Setelah meliuk di sana-sini, lolos dari jebakan macet, terhampar pemandangan tumbuhan beton yang berlomba menjulang di kanan-kiri Jalan Sudirman, Ngamarta City.

Wajah Bagong terlihat tegang. Sebagai jurkam Bima Berbudi, dia berpikir keras. Apa lagi yang harus dia ndrasbul-kan di depan khalayak. Di mobil lain, Gareng dari pihak JK alias Jenderal Karna hanya memandang tingginya gedung-gedung dari balik black glasses. Dari arah lain, wakil Srikandi Berwibowo, Petruk, asyik mengelus-elus kuncirnya yang rasanya tambah memanjang saja.

Hampir berurutan, ketiga mobil memasuki lobi. Mereka saling diam dalam lift yang mengantarkan mereka ke lantai tujuh.

Setelah cuap-cuap sedikit kalimat pembuka, ''Wookeey... Dari Bagong dulu nich. Apa sich kelebihan Bima Berbudi?" tanya Narada Komarrudin. Sejenak Bagong terdiam. Selanjutnya, dia menghidupkan laptop yang dihubungkan dengan screen. Muncullah gambaran-gambaran tentang visi dan misi Bima Berbudi. ''Believe it, bro. We sangat menghargai kesucian alam sak isinya. Contreng kami,'' ucap Bagong pada pembukaan.

Alasan Bagong sungguh bisa dinalar. Calon presiden terbagus, tak lain adalah Bima. Bagaimana mungkin Bima bisa merusak alam? Lha wong sepanjang hidupnya habis untuk mencari air Purwita Sari. Dan air Purwita Sari adalah simbol pada penjagaan alam.

''Bagaimana dengan fenomena air...itu,... air lumpur! Apa itu juga kategori air yang dicari?'' ujar Narada Komarrudin penuh selidik.

Bagong terlihat menelan ludah. Diambilnya tissue dan diusapkan di sekitar dahinya. Bagong akhirnya mengambil jawaban netra. Bahwa sampai sekarang, air Purwita Sari sejatinya masih dicari. Bisa jadi pada akhirnya kita sepakat, mungkin air lumpur itu yang dimaksud dengan air Purwita Sari. Audience bertepuk tangan sangat riuh.

''Bagaimana dengan Lu, bro? Srikandi berbudi!'' ujar Narada Komarrudin. Kuncir Petruk langsung memercikkan sinyal. Dia mengatakan, para ibu sekarang sedang punya program menanam bunga, khususnya yang varietas lokal. Ke depan, bunga itu diprediksi bisa dinikmati anak-cucu. Teriakan ibu-ibu langsung memenuhi seluruh ruangan. Dalam kedinginannya, Petruk mencoba tersenyum. Manis, bok.

''Gak usah tanya! Sebagai jago taktik, manajemen zero budget money politics pada pilpres ini langsung kita terapkan,'' terang Gareng. Seluruh ruangan terasa tegang. Masing-masing asyik menggeluti pikirannya.

Bagong langsung komentar. Dari hasil browsing, terdeteksi ada money politics pada salah satu lembaga pemilihan umum. Merasa diserang, Gareng coba membalas. Ia mempertanyakan, berapa korban lagi yang akan jatuh akibat karut-marut manajemen transportasi. Petruk pun diserang Bagong. Sindirannya, menanam bunga tuh sama aja dengan memanen dividen dari badan usaha negara yang telah dijual beberapa tahun yang lalu. Suasana bertambah ramai. Hampir saja Gareng memukulkan sebuah kursi ke arah Bagong.

Semar masuk dan mendinginkan suasana. Semar meminta mereka boleh percaya, tapi jangan berlebih-lebihan. ''Coba kalian tengok, lagi ngapain bendara-bendara kalian," ujar Semar.

Setelah nomor tujuan di-dial tapi yang terdengar hanya tulalit, Bagong cepat mengambil binocular canggihnya. Terlihat Bima sedang indehoy dengan salah satu selingkuhannya, Urang Ayu. Dan karena rasa cinta itu, Bima mengorbankan separo hutan Pringgondani untuk dibalak. Demi menyenangkan Urang Ayu, Bima pun menghadiahi sebuah mobil mewah yang superluks. Glepek, Bagong lemes. ''Kang..looks this..ayo lah, Kang,'' rengek Bagong kepada Gareng. Gareng pun hanya ndlosor membaca berita pengungkapan money politics. Petruk pun ngurung diri di kamar. Maaf jago saya pernah jual banyak badan usaha, tulis Petruk pada kertas yang ter-centel di pintu kamar.

Tak ada yang sempurna. Tapi, pilih orang yang bisa mengerti negeri ini. Yang pernah direbut kemerdekaannya dengan tetes darah dan air mata. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono
jawa pos minggu 28 juni 2009


Presiden yang Dekat Rakyat


PERDEBATAN capres final kemarin malam menyisakan keraguan. Sebab, semua calon menyatakan diri ingin membangun negeri. Namun, kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan pembangunan masih bersifat fisik belaka. Masih penuh pula korupsi.

Di pagi hari yang cerah, Baging berjingkat memasuki kamar Semar. Ia mengambil kaset video rekaman debat capres final. Di kamar Gareng yang penuh peralatan elektronik, Bagong menyetel ulang rekaman debat capres.

Di layar monitor, muncul sosok berbalut setelah baju safari biru muda. Calon presiden Bima Berbudi dengan tenang dan suara khas berdiri di podium. ''Lima tahun kemarin memang sulit. Tapi, dengan ketabahan, kita semua bisa melewati semua bencana. Lanjutkan!'' ujar Bima di awal debat. Bima ber-casciscus selama tujuh menit, diakhiri senyum menawan agar rakyat memilihnya.

Gantian Capres Ibu Srikandi Berwibowo yang menerangkan bahwa debat itu bukan teater besar yang artificial. Pengorbanan darah dan air mata dari perjuangan rakyat pantas dihargai dengan ekonomi yang pro-rakyat. Bu Srikandi menutup pidatonya dengan mengusung perubahan yang mendesak.

Di sesi ketiga, Jenderal Karno (JK) tampil dengan penampilan santai. Ia ungkapkan bahwa pemilihan presiden itu tidak berorientasi pada uang. Tapi, itu murni demokrasi rakyat. Perdebatan terus berlangsung. Saling serang, saling tohok. Namun, di pintu masuk gedung debat ada keributan kecil. Ketika sebuah mobil kodok berwarna kuning nyelonong masuk.

Dari dalam mobil itu mencuat Semar yang langsung berteriak. ''Lihat, rakyat kecil di pelosok masih miskin. Aku mau ketemu tiga capres!'' teriak Sang Badranaya itu. Tapi, keinginan Semar untuk masuk terhalang barisan keamanan.

Semar lemas tak bisa masuk gedung debat. Padahal, ia butuh ketemu mereka. Sebab, rakyat ketiga capres bersatu untuk atasi bangsa yang sudah di ambang kehancuran mental.

Mobil kodok Semar kembali terseok-seok pulang kampung dengan penuh kecewa. Tapi, mak gragap, refleks Semar keras menginjak rem. Dengan sembrono, seseorang menyeberang jalan. ''Uelek, Gong. Koen bar saka ngendi?'' damprat Semar. Bagong cengengesan. ''Lho, Mo. Belum ketemu tiga capres?'' tanya Bagong tiba-tiba. SEmar pun menceritakan kejadian yang baru terjadi.

Menurut Semar, yang pantes dipilih adalah presiden yang dekat dengan rakyat. Pernyataan Semar ini mengakhiri tayangan 10 menit video dengan judul Presiden Rakyat.

Bagong begitu penasaran. Ia bertekad mencari presiden yang dekat rakyat di mana pun, di negeri mana pun.

Jauh di negeri Hastina, perbincangan soal presiden wayang yang dekat dengan rakyat menghangat di masyarakat. Durmogati mengemban amanat untuk menemui anak-anak Semar. Tapi, keterangan panjang lebar agar orang memilih presiden Duryudana yang disampaikan Durmogati dipandang sebelah mata oleh Bagong. ''Priben? Mau nggak nih? Yen dukung Duryudana duite gede," rayu Durmogati. Mata Bagong malah tambah melotot. Kenapa mung ingin dekat dengan rakyat saja kok pakai mbayar? Bagong menolak tegas. ''Justru suka beri uang rakyat itu akhirnya dekat dengan rakyat," Durmogati menjelaskan dengan bergaya bos.

Merasa terhina, Bagong usir Durmogati. Bagong putuskan keliling dunia untuk mencari presiden yang dekat rakyat. Dengan naik jukung tradisional, Bagong memasuki laut lepas. Sudah 3 hari mengayuh, jukung tak sadar memasuki laut dekat semenanjung Korea. Bagong sebodo amat dengan keamanan. Tanpa takut dicurigai, ia berjalan di tepi dermaga. Ia beli mi istimewa buatan Korsel yang lezat. Tanpa sadar, eh ndilalahnya ada tali kapal USS Abraham Lincoln tertambat melintang. Dasar, mata kaki Bagong buta, jatuh kongseb tur kesenggrok. Sehelai mie terlempar tepat mengenai lambung kapal selam. Kru kapal selam panik. Air deras masuk kapal selam yang lambungnya bocor. Dalam hitungan detik, kapal telah rusak.

Bagong langsung dikepung di bawah acungan senapan serang. Bak James Bond 007, sikap Bagong tetap dingin. Ia digelandang ke kapal USS Ronald Reagan untuk pertanggungjawaban. Di atas kapal, Bagong diinterogasi abis. ''Mbuh lah, rilly I Do No, koen ngomong apa," jawabnya dengan Inggris yang belepotan. Perwira-perwira Amrik saling pandang. Interogasi sementara berhenti ketika sebuah helikopter mendarat. Ternyata, presiden Obama yang langsung melihat dengan seksama kepada Bagong. Bagong menunduk agak ketakutan di bawah bayang-bayang tubuh ideal presiden Obama. Telinga Bagong seperti dibisiki. ''Gong, presiden yang dekat rakyat itu tak ada. Itu hanya ilusimu saja. Yang ada, presiden yang benar-benar bekerja untuk rakyatnya," kata Obama tegas.

Tapi Bagong tak percaya. Ia putuskan untuk ke kahyangan bertemu Presiden Manikmaya. Tapi, alangkah kagetnya, Presiden Manikmaya bermalam di Hotel Grand Bawana. Di radius radius 5 km, para dewa sudah membuat pagar manusia sebagai pertahanan di ring pertama. Sementara di ring kedua, radius 10 km, setiap orang yang mau masuk Kahyangan dicek KTP dan barang yang di bawa dengan alat detektor.

Bagong lemas. Punah sudah niatnya mencari presiden yang dekat rakyat. Sungguh, mungkin benar itu hanya ilusinya saja. Mendadak, seseorang menyentuh Bagong dari belakang. ''Gong, yang dekat dengan rakyat adalah kamu dan keluargamu, Semar. Dan dekat dengan rakyat tak harus jadi presiden, gitu loch," kata sang Begawan Abiyasa sambil tersenyum menyapa Bagong yang cuma melongo. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

jawa pos minggu 05 juli 2009



PARIKAN KIROTO BOSO


Berakit-rakit kehulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian

Kehulu memotong pagar
Jangan terpotong batang durian
Cari guru tempat belajar
Jangan jadi sesal kemudian

Kerat kerat kayu diladang
Hendak dibuat hulu cangkul
Berapa berat mata memandang
Barat lagi bahu memikul

Harapkan untung menggamit
Kain dibadan didedahkan
Harapkan guruh dilangit
Air tempayan dicurahkan

Pohon pepaya didalam semak
Pohon manggis sebasar lengan
Kawan tertawa memang banyak
Kawan menangis diharap jangan

PARIKAN WAGU


Sorong Papan tertarik Besi
Turun kelaut tertangkap buntal
SEbelum kawin setia berjanji
Kenapa udah kawin masih gatal..........

Anak itik jalan melenggang
Melengang menuju ke lubang
Harimau mati meninggalkan belang
Manusia mati meninggalkan hutang

Makan Durian ditengah hutan
Durian disuap perempuan cantik
Sayang anak tinggal-tinggalkan
Sayangkan bini terus tak balik....

Anak arab pulang ke arab
pulang kearab membeli udang
siang malam selalu diharap
yang diharap di ambil orang

Disini gunung disana gunung
ditengah tengah ada daun lontar
disini bingung disana bingung
mendingan blog ini di kasih komentar

dari jepara kesemarang
bawa kotak dari tanah seberang
hati siapa tak bimbang
situ botak minta dikepang

Buah kedondong Buah atep
Dulu bencong sekarang tetepp …………..

Buah semangka buah duren
Nggak nyangka gue keren

Buah semangka buah manggis
Nggak nyangka gue manis

Buah apel di air payau
Nggak level layauuuuuuu…..

Pohon kelapa, Pohon durian,
Pohon Cemara, Pohon Palem
Pohonnya tinggi-tinggi Bo!

Buah Nanas, Buah bengkoang
Buah jambu, Buah kedondong
Ngerujak dooooooooonggggggg…

Ada padi, Ada jagung
Ada singkong, Ada pepaya
Panen ni yeeeeeeeeeeeee!

Disini bingung, Disana linglung
mangnya enak, engga nyambung….

Buah semangka berdaun sirih
Buah ajaib kali yah?????????

Jalan kaki ke pasar baru
Jauh boooooooooooo….

Jambu merah di dinding
Jangan marah just kidding

Jauh di mata,dekat dihati
Jauh di hati,dekat dimata
Jauh-dekat tujuh ratus perak

Nemu gesper, di pinggir jalan
Kalo laper, makan tu gesper

Men sana in corpore sano
Gue maen kesana,
Elo maen ke sono!
Disana gunung, disini gunung,
Ditengah-tengah bunga melati
Saya bingung kamu pun bingung
Kenapa ada bunga melati ???!?

Anak ayam turun ke bumi
Induk ayam naik kelangit
Anak ayam nyari kelangit
Induk ayam nyungsep ke bumi

Sayur asem sayur sop
laper nich

dilangit ada tomat
sengit amat

buah kedongdong buah tomat
Elu bodong amat

buah duren di pohon beringin
rese’ banget tuch duren….

ayam kurus bulunya banyak
rugi banget yang beli………


Jumat, 12 Juni 2009

KENCUR YANG WANGI DAN BERKHASIAT


Banyak manfaat untuk bumbu sekaligus obat...ya KENCUR...kata latinnya Ginger Galanga L adalah jenis empon emponan/tanaman obat yg tergolong dalam keluarga temu temuan atau Zingi beraceae...apa aja manfaatnya....
UNTUK MENGOBATI RADANG LAMBUNG
ambil tiga biji kencur,kupas kulitnya,cuci sampai bersih...trus dikunyah..sesep airnya..lalu telan...buang ampasnya,kemudian minum air hangat satu gelas.
lakukan satu sampai dua kali sehari.
INFLUENZA PADA BAYI
ambil kencur sebesar ibu jari,tammbahkan dua lembar daun lada berekor.cuci bersih,lalu ditumbuk sampai halus,tambahkan dua sendok makan air hangat..lalu balurkan pada luar sekitar hidung si anak.
UNTUK MENGOBATI BATUK
ambil kencur sebesar ibu jari dan garam secukupnya,cuci bersih kencur tersebut lalu di parut,masukan kedalam satu cangkir air hangat,peras,disaring.
minum ramuan sekaligus
lakukan secara pengobatan ini secara rutin satu sampai dua kali sehari
sampai penyakitnya ilang.
UNTUK MENGOBATI DIARE
ambil kencur sebesar ibu jari,cuci sampai bersih lalu diparut.masukan kedalam satu cangkir air hangat ,aduk sampai rata.lalu di peras dan ambil airnya.
boerhkan ramuan pada bagian perut
lakukan pengobatan ini satu samapai dua kali sehari.
UNTUK MENGOBATI REMATIK
ambil satu ibu jari kencur,tambahkan jahe satu ibujari beras satu ons dan stengah ons biji kedawung,lalu rebus semua bahan secara bersamaan dengan dua gelas air dalam tempat tertutup.setelah mendidih samapi stengah jam.angkat,diamkan sampai hangat kuku,lalu saring,
tambahkan air perasan satu buah jeruk dan madu dua sendok teh,aduk sampai rata,lalu diminum
lakukan pengobatan ini dua kali sehari.