-->

Kamis, 09 Juli 2009

CARA MERAWAT VESPA


Untuk kelancaran Vespa kita ada baiknya mengikuti Tips berikut :

Dalam perjalanan Selalu membawa cadangan: tali kopling, busi,
amplas serta tang, obeng dan kunci serat ban serep.
Soalnya kalau tali kopling sudahputus, biar gak repot nyari bengkel.
Karena itu kalau sudah 'terasa' akan putus, buru2 diganti, agar tidak menyusahkan.

Jgn lupa pawa kunci :
1. Kunci leter T ukuran : 11 buat kaburator dan 13
buat Ganti Ban
2. Kunci leter T untuk buka/pasang Busi terdiri 3
ukuran (jadi Satu)

nyampur sendiri agar lebih irit dan kualitas mesin
bisa kita pertanggungjawabkan.
Dan kalau kemana-mana ada baiknya bawa oli, jgn isi
bensin sembarangan nanti brebet.
rajin TuneUp bila sering dipakai... serta bersihin
arang

============================================

Kalo siSemok sukar hidup (ngeberebet), biasanya adanya
gangguan pada :
1. Sistem penyaluran bahan bakar
2. Bagian pengapiannya yang nggak bekerja sempurna.

Penyebabnya biasanya
1. Mesin banjir;
2. spuyer/saluran karburator tersumbat/kotor
3. keran bensin (fuel cook) tersumbat/kotor,
4. pengapian terganggu (pake CDI apa pake platina).


nih sedikit tips perawatan
1. Periksa bagian bensin apakah masih terisi cukup.
2. Buka tutup mesin, kemudian periksa saluran bensin
perhatikan apakah jalannya bensin ke karburator
tersumbat.
3. jika karbu bermasalah "banjir/ngocor" Tutup keran
bensin, copot businya.
4. Cek Pengapian lewat busi, apakah bagian pemantik
apinya bersih, ampelas sedikit bagian kepala busi bila
kotor yang biasanya kotoran itu karena tertutupi oli.
Kotornya busi itu menyebabkan bunga api lemah atau
berwarna merah.
5. Bisa juga busi tidak nyala/nggak normal di
antaranya karena busi nggak sesuai/rusak,celah busi
standarnya sekira 0,6 mm,
6. kabel busi atau tutup busi sobek-sobek bahkan aus,
kondensator atau koil tegangan tingginya rusak
(penyetelan pengapian tidak tepat)


beberapa spesifikasi spuyer vespa (dari bengkel GW
yang udah jadi langganan selama 9 tahun+TONGKRONGAN)
yang penting kalo oli samping jgn terlalu irit pake
aja 2% (maks 1 : 2) berikut pilot-jet(spuyer
kecil/spuyer langsam)
48-160, 80-140,85-140, 95-160, 105-160
kalo gw sih pake 95-160 (mayan irit 1:40) asal jgn
digeber ajah bawanya nyantai (40-60 km) kalo mo lari
silakan pake pilot-jet yang lebih besar kompresi disesuaikan


Silakan mencoba..
ada baiknya dicoba bongkar sendiri jadi kalo ada apa2x
bisa mengenali penyakitnya vespa.

MERAWAT BURUNG PERKUTUT KESAYANGAN

Merawat perkutut harus dilandasi perasaan kasih sayang, agar burung selalu sehat dan rajin berbunyi seperti yang diharapkan. perawatan utama berupa pemberian makan.selain harus betul dan bersih.

Perkutut umumnya menyukai makanan berupa biji-bijian karena sejak kecil sudah bisa diberi biji-bijian itu.

Kalau burung sudah mulai berbunyi, pemberian makan di kasih berupa millet dan gabah saja atau dengan makanan olahan. bahannya terdiri dari campuran ketan hitam,millet, canary seed, jewawut, dengan bumbu berupa kencur, jahe, bawang putih, madu,kuning telur ayam kampung, lada putih, dan garam dapur beryodium.

Makanan olahan yang telah jadi untuk perkutut bisa di beli di toko makanan burung akan tetapi kalau ingin membuat sendiri, resepnya sebagai berikut:
  1. 1 kg millet
  2. 2 sampai 3 butir telur,diambil kuningnya
  3. 1 kg gabah
  4. 2 siung bawang putih
  5. 1/4 kg ketan hitam
  6. 3 jari tangan jahe
  7. 1/4 kg canary seed
  8. 3 jari tangan kencur
  9. 1/8 kg jewawut
  10. ½ sendok makan garam
  11. 5 sendok makan madu
  12. ½ sendok teh lada putih
Bumbu berupa kencur, jahe, bawang putih, lada putih, dan garam ditumbuk sampai hancur kuning telur dikocok sampai mengembang, lalu diberi madu lebah dan dikocok lagi sampai tercampur betul. setelah madu telur itu tercampur, bumbu yang telah ditumbuk tadi dicampurkan pada telur dan madu, diaduk-aduk sampai rata.

Ketan hitam, millet, gabah, canary seed, dan jewawut, sebelum dicampurkan dicuci bersih dulu di buang yang mengambang lalu ditiriskan, digelar dalam tempeh atau sejenisnya.selanjutnya dijemur sampai kering.biji-bijian yang sudah kering inilah yang dicampurkan dalam adonan telur madu yang berbumbu tadi

Bahan dicampur aduk samapai rata, kalau perlu diremas-remas dengan tangan.setelah adonan tercampur betul di gongsong (digoreng tanpa minyak) selama kurang lebih dua menit. kemudian diangkat dan dituangkan di atas nyiru, untuk diangin-anginkan di tempat teduh sampai kering dan dingin.

Sumber : bandaraperkutut.8m.com

Pagebluk Flu Joss

SUASANA di kandang Babi Cage Modern Land terasa ricuh. Isu pemusnahan binatang yang bernama babi sudah sedemikian menyebar. Itu terkait fenomena flu babi yang menghajar negara Meksiko.

Seluruh babi pun mengadakan rapat akbar di kandang terbesar, tempat Miss Gruik, ibu babi yang terkenal sangat berwibawa. Rapat di kandang itu begitu menegangkan. Banyak email, surat, dan SMS yang masuk ke laptop Miss Gruik. Isinya sama, yaitu ketakutan dan kegelisahan babi pada pemusnahan masal. Bertahun-tahun para babi menderita karena cacing pita, eh, sekarang malah dapat flu yang berbahaya.

Sederet tindakan menjelang rapat langsung digelar. Miss Gruik mendesak Dewan Perwakilan Babi (DPBi) untuk membuat program masker gratis untuk babi yang tak mampu.

Karena acara itu urgent, semua babi di kandang bersiaga penuh. John Groiik, berbobot 250 kilogram, dengan mata sipit seperti cahaya laser yang dilengkapi infra red, ditugaskan memantau keadaan di luar kandang. Mas Guing, berbobot 150 kilogram, babi lulusan Pig Network Technology, ditugaskan di pos pemantau jaringan Facebook untuk menjaga opini agar babi tetap bisa dipelihara manusia. Dan si Rambo Grook, seberat 450 kilogram, ditugaskan menjaga pintu kandang. Sesekali, dia berendam di comberan hingga kadang ketiduran.

Rapat di kandang dimulai dengan hot. Miss Gruik sangat anggun berceloteh. ''Masa tubuh kita yang indah dan sensual ini mau dilenyapkan seenaknya oleh manusia? Setelah menikmati daging kita, mereka ketakutan hanya karena kita kena flu," ujarnya.

''Aku juga benci lihat di warung ada menu babi guling dari babi kurus. Kita ini punya tubuh gempal kok di warung cuma gitu,'' celoteh babi anggun yang suka nyinyir pada babi bertubuh kurus itu. Di tempat berendam, Rambo Grook lempar senyuman. Dia tepuk perut lantaran bangga punya tubuh super gemuk.

Semua babi berebut menyuarakan kesedihannya atas epidemi flu tersebut. Akhirnya, sebagai ketua Miss Gruik menawarkan proyek hidup bersih. Cara hidup babi yang jorok harus dibuang abis. Rapat distop sementara. Miss Gruik minta pertemuan dilanjutkan esok harinya supaya ada masukan dan pemikiran dari para babi lainnya.

Malamnya, Miss Gruik minta Rambo Grook untuk mencari sejenis flu. Bukan hanya virus untuk babi, tapi juga flu bebek, flu kambing, flu sapi, bahkan flu kutu. Itu agar semua binatang di dunia dimusnahkan. ''Jangan khawatir. Gue butuh satu hari kumpulkan flu yang berbahaya. Itu nanti kuberi nama Flu Joss. Hehehe,'' kata Rambo Grook.

Keesokan harinya, Miss Gruik menyogok uang 1 miliar untuk setiap anggota Dewan Perwakilan Babi. Hingga usulnya agar hewan dan manusia dimusnahkan pun gol. Maka, dibuatlah tim dari berbagai babi untuk menyebarkan pagebluk lewat media virus Flu Joss.

Dalam perjalanan jauh, mereka menyebarkan Flu Joss ke Amerika dengan perantaraan binatang pacuan kuda. Selanjutnya, penduduk Hongkong dibuat kalang kabut dengan flu bebek. Setelah puas, rombongan babi melanjutkan perjalanan ke Asia Tenggara, menuju Indonesia. Rombongan itu dipimpin sendiri oleh Miss Gruik.

Namun, di tengah jalan, rombongan itu berhenti. Mereka melihat seorang tua gemuk yang selalu tertawa ngakak saat membaca isi laptopnya. ''Waduh, hebat koen Puntadewa. Sip, sip, you, Raja Urinara,'' teriak pujangga Semar, si gemuk itu, yang sedang membaca kehidupan dalam bentuk Mahabarata versi Jawa.

''Hei orang tua, siapa kamu? Tolong menjauh!!'' gertak Rambo Grook bengis. ''Hei, gembrot! Eh, you rombongan babi mau apa ke sini? Mau fitness biar langsing, ya?'' sahut Semar sambil kasih senyum. Terpaksa, para babi juga senyum melihat kelucuan orang tua itu.

Akhirnya, Miss Gruik dengan sopan menerangkan maksudnya. ''Kami mau serang manusia dengan Flu Joss. Sebab, kami putus asa untuk bisa hidup terus di bumi yang mau hancur ini,'' keluh Miss Gruik dengan berlinang air mata.

''Eh, you semua are wrong. Tak tahukah kalian tentang Raja Puntadewa dan Sang Urinara?'' tanya Semar. Semua terdiam. Semar pun mulai bercerita dengan suara merdu. Gayanya nge-rap.

Dulu ada kisah Puntadewa yang mau muksa ke Himalaya. Pendakiannya berat. Seluruh saudaranya, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa jatuh di lereng gunung. Hanya anjing yang mau temani Puntadewa. ''Ingat, hanya binatang yang ikhlas menjalani perintah Sang Pencipta yang akan masuk surga binatang,'' ujar Semar menutup ceritanya. Suasana hening.

Miss Gruik dan rombongan babi merenung sambil menggali memori lamanya. Ya, ia masih ingat, ada manusia yang ikhlas berkorban demi bangsa burung. Yaitu, Raja Urinara.

Secepat kilat, Miss Gruik meminta Rambo Grook menyiapkan rapat darurat di kandang. Semua kelompok babi diminta tidak menyerang Indonesia. Namun, Babi Anggun nyeletuk. ''Kalau orang Indonesia hidupnya jorok seperti Rambo Grook ya bakal kena virus Flu Joss,'' katanya nyinyir.

Rambo Grook tersinggung. Matanya mendelik marah, tangannya terangkat hendak menghajar Babi Anggun. Namun, Miss Grook menengahinya. ''Sudah, kita jangan saling menyalahkan. Kita belajar dari Semar tentang kata cinta,'' kata Miss Gruik.

Para babi saling pandang. Mereka mencoba mendiskusikan arti kata cinta itu. Oh, cinta itu bundar, eh, enggak sih...cinta itu pipih, cinta itu berendam,...tenang,...berkorban,...dan, ...dan di kotak wayang, Sang Dalang tak temukan wayang babi. Yang ada wayang celeng, dan di kotak wayang itu tak ada flu celeng. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono
jawa pos minggu 10 mei 2009

Lakon Semar Meteng

SESOSOK tubuh gempal mirip Semar mengendap-endap. Langkahnya siaga, mengantisipasi agar orang lain tak ada yang memergoki. Ternyata, kehadirannya diikuti dua teman lainnya. Mereka mirip, sama-sama berkuncung, lengkap dengan senter di tangan. Ketiganya adalah Semar Ilir-Ilur.

Pelan tapi pasti, arah sinar salah satu senter mereka memfokus pada sesosok tubuh yang menggeliat-geliat mewek, entah merintih, entah tertawa. Tubuh yang disenteri itu besar. Perutnya besar pula.

''Yah, begitulah. Nafkah lahir batinku terabaikan. Abis, Kang Semar bertapa terus,'' ujar Kanastren sambil memandang tubuh berperut besar yang sedang ngglimpang tersebut. Tapi, diam-diam, di pojokan, Kanastren bisik-bisik bertransaksi dengan tiga tamu misterius yang nyamperi rumahnya.

Denmas Semir, ya, itulah nama saudagar kaya dari negeri antah-berantah. Dia datang dengan lembaran uang bergepok-gepok. ''Gimana, Semar Tanah siap dipaksa melahirkan? Sak gini cukup?'' ujar Semir merayu Kanastren dengan lembaran dolar sak koper. ''Sudah saatnya Semar Tanah dipaksa melahirkan embrio-embrio baru,'' tambahnya.

Dengan sangat terpaksa, karena desakan biar dapur tetap ngebul dan kendil tidak pating njedil alias ngglempang, Kanastren menerima tawaran Denmas Semir.

Tapi, Semar yang sudah bertapa selama sembilan bulan tiba-tiba membuka matanya. Dan dengan tegas menolak nafsu keinginan Denmas Semir. Sumpah serapah keluar dari bibir Semar yang kecewa dengan Kanastren. Istrinya itu dianggapnya hanya mementingkan kesenangan dunia sesaat dengan gelimang emas, berlian, dan mutiara.

Semar seketika mengambil ponsel yang selalu standby di dalam tas cangklong hitamnya. Di-dial-nya telepon Bambang Ismaya. ''Bener nich? Ini momentum yang good tuk pregnant en melahirkan?'' selidik Semar. Percakapan hening sesaat. Di seberang sana, Bambang Ismaya mengerutkan keningnya. Bambang Ismaya akhirnya meminta Semar naik ke langit tingkat tujuh. Mungkin di sana ada jawabnya.

Dengan hanya berbekal pakaian yang melekat di tubuhnya dan bersandal jepit, Semar nekat menembus langit demi langit. Sekuat tenaga dikayuhnya sepeda kebo warisan orang tua. Sepeda kumbang itu cepat melesat menuruni bukit Karang Kadempel dan plass, terbang menembus langit pertama. Di tengah perjalanan, Semar sempat melewati perkampungan nelayan di pesisir utara.

Aneh, suasana yang dulu penuh keceritaan sekarang gersang. Tambak-tambak garam terbengkalai ditumbuhi lebat lumut hijau. ''Yo opo, Rek? Kuabeh sungai kebek limbah tur beracun, lagi. Kagak ada guna amdal-amdalam,'' seloroh nelayan itu. Semar mbrebes mili. Dia tak tahu cara menolong orang-orang tersebut.

Dari jauh, terlihat puluhan orang berbaris berduyun-duyun dengan busana serba merah, Mereka meneriakkan yel-yel Srikandi Berwibowo. Memang, saat itu Srikandi dengan para kadernya sedang melakukan aksi turun ke bawah. Sambil menyelam minum air. Ada udang di balik batu.

''Hey, lagi ngapain kok mbeyes mewek kayak gitu? Tambah jelek aja,'' sapa Srikandi. Semar menceritakan semua yang dilihat dan didengarnya. Srikandi Berwibowo pun menawarkan diri membersihkan pencemaran air, terutama di sungai dan laut. Semar dengan tersenyum kembali mengayuh sepedanya ke tingkat berikutnya.

Memasuki jarak tiga kilo, suara gemuruh datang dari jalanan yang akan dilewati Semar. Jembatan yang rapuh dimakan waktu akhirnya jebol juga. Jembatan langit runtuh, Semar bingung alang kepalang. Dalam situasi menegangkan, datang sebuah mukjizat. Dengan kereta kebesarannya, datang Arjuna yang berbudi. Arjuna langsung menawarkan perbaikan, komplit-plit. Mulai desain sampai pembiayaan.

Dengan mengerahkan ajian Panglimunan, datanglah jin, gendruwo, beserta keluarga dekatnya membantu mewujudkan keinginan Arjuna Berbudi. So, dalam hitungan detik semuanya beres res dan Semar dapat melanjutkan perjalanan.

Memasuki etape langit ketiga, kebanyakan jalan menurun. Semar lebih merundukkan badan rata dengan kemudi sepeda kumbangnya. Memasuki turunan yang berakhir tikungan tajam, roda belakang sepeda berdecit keras dan meninggalkan bekas hitam di atas aspal.

''Waduuh, kalian lagi pada ngapain? Memperbaiki atau malah merusak alam kyeeeeh?'' selidik Semar. Jendral Karna yang lagi asyik beraktivitas pun ndadakan berhenti. ''Yah, pasti menghijaukan lagi-lah, Uncle," terang JK alias Jendral Karna.

Semar mbatin, apa bener-bener alam kita sekarang rusak parah, yah? Sebodo amat, Semar langsung genjot abis. Wuuzzzz... melesat ke langit pitu. Hampir saja tenaga Semar berhasil menggeser pintu, sebuah tangan penuh tenaga mencekal tangan Semar. Seketika, dia kuat-kuat me-ngipat-kan tangannya. Yamadipati menggelegak seakan tertantang. Tanpa babibu lagi, Yamadipati menyosor menyerang. Tapi, amarah Semar membuatnya membabi buta. Sebuah teknik kuncian, menjerat tubuh Yamadipati. Sekali sentak, Yamadipati berteriak panjang dan terlempar jauh.

Tanpa menyia-nyiakan waktu Semar membuka pintu langit kepitu. Behind the door, Sang Hyang Tunggal sudah menunggu. Semar mencurahkan semua isi hatinya. Bagaimana Kanastren sekarang menjadi matre alias gila harta. Semua sekarang diselesaikan dengan money. Sampai sekadar berdoa pun berujung uang.

Kenapa aku diperlakukan seperti ini, dipaksa melahirkan sesuatu yang baru? Dengan bijak Sang Hyang Tunggal berujar, bahwa rahim bukan sekadar sebuah tempat gua bertapa sembilan bulan. Rahim adalah sebuah jalan cinta dan hidup semua makhluk yang bernyawa sekarang. Termasuk, mencari nafkah yang halal itu juga jalan cinta. (*)

oleh : Ki Selamet Gundono
jawa pos 07 juni 2009


Limbuk Manuhara


MATAHARI baru separo mentingis. Tapi, kegemparan sudah terjadi. Puluhan SMS memberondong ponsel Narada. Isinya sama. Mereka komplain atas getaran tari Cangik dalam bertapanya. Seluruh jagat kena demam menari.

''Maya, ini tak bisa didiamkan,'' ujar Narada via ponsel. Tanggap, Manikmaya segera menuju garasi. Si driver yang agak liyep-liyep di-jendul-nya. ''Asyik, bos... Mau triping lagi ya?'' kata si driver sedikit slebor. Mobil berjalan ajrut-ajrutan ke pondok Narada. Dalam pertemuan singkat, Narada diminta menemui Cangik.

Eh, saat ditemui, Cangik kipat-kipat. Tangan Narada yang coba menghentikan tapanya segera ditepis. ''Jangan harap gue mo brenti kalau dewa kagak kasih gua keturunan yang kinyis-kinyis sempurna,'' teriak Cangik berkali-kali.

Narada sejenak merenung, mencoba menembus prediksi ke depan. Akhirnya, dia sebagai wakil dewata membubuhkan ACC. Seketika itu juga, Cangik berhenti menari. Dia limbung dan pingsan. Lhadalah, ujug-ujug dia jatuh dan ditangkap Parto Gecul, suami tersayang. Yahuuuu, malam ini lembur, dah, batin Parto Gecul.

Singkat kata, Cangik udah hamil bulan ke sembilan. Juru kamera Ngamarta TV, pemadam kebakaran, aparat keamanan, dukun bayi, pawang hujan, hingga pembawa kotak-kotak sumbangan dan penjual kacang rebut menyemut di sekitar kediaman Cangik. Seluruh jagat was-was menanti bayi Cangik yang keelokannya sudah dijanjikan para dewa.

Tengah malam, berbarengan dengan rembulan yang lingsir, mak broll, bayi Cangik lahir. Tak lama, dalam acara Ngamarta Breaking News, wajah Limbuk Manuhara, bayi itu, langsung menghiasi kotak kaca seantero jagat. Dan betul, hari demi hari, aura kecantikan Limbuk Manuhara kian bulat utuh. Rambutnya bergelombang, kulit mulus, bibir tipis dihiasi rambut halus. Nada bicaranya yang mendayu-dayu selalu membuat pria nggayer-nggayer. Bukan hanya fisik, Limbuk Manuhara pun menjadi langganan pemenang ajang putri-putrian. Di sekolah, dia selalu juara kelas. Kesempurnaan itu juga yang membuat Bagong, teman sekelasnya, naksir berat.

Suatu siang, saat Bagong sedang ngisis, dia bayangkan sing ora-ora. Lamun tresna kula, it is a big mistake...Abaikan dan buang di tepian jalan. Agak ndredeg, Bagong tekan tombol send. Ya, begitulah Bagong. Keberaniannya terbatas pada SMS. Bukan harta, bukan wajah, tapi keteguhan hati, modalnya. Begitu SMS Bagong berikutnya.

Tiba-tiba, Bagong merasa ada getaran di dekat pusat celananya. Drett-drett, oalah, handphone-nya. Pada layar yang berkedip-kedip ada nama Limbuk Manuhara. Bagong semringah. ''Sapa neeh?? Oalah, Bagong, ta? Wis, ra sah macem-macem!! Limbuk sudah dijodohkan sama Prince Warrior,'' kata suara di seberang sana. Blaik!! Ternyata Cangik! Bagong gemeter. Ternyata, ponsel Limbuk tertinggal di ruang tamu dan dipegang Mamah Cangik.

***

One day, sebuah bus pariwisata memasuki kampung yang dijadikan percontohan internasional. Limbuk Manuhara termasuk salah satu lady escort-nya. Kecantikannya memanah hati Pangeran Kuda Lanang. Sinyal-sinyal itu ditangkap Limbuk. Tanpa pikir panjang, Limbuh yang baru melepaskan masa ABG itu langsung hooh. Disaksikan warga, perkawinan dihelat. Mempelai putri pun diboyong ke ranah Kuda Lanang.

Di tanah yang baru, lenggak-lenggok di catwalk semakin menjadi-jadi. Bahkan Limbuk Manuhara menjadi top model. Lalu malam itu, saat ada di peraduan sendiri, Sang Pangeran menonton televisi. Ndilalah, ada gosip syur tentang Limbuk Manuhara. Sang Pangeran emosi sak dada. Baru saja Limbuk masuk kamar, plakk!!, tamparan tepat mendarat di pipi halusnya.

''Diamput!! Diomongi ngeyel! Di mana martabatmu? Peraturan di sini lain. Ketat. Tinggalkan semuanya sekarang,'' teriak Sang Pangeran. Dengan cepat, diiringi sesenggukan yang tiada habis, Limbuk packing dan go home.

Sehari, seminggu, Sang Pangeran mulai kesepian. ''Teklek kecemplung kalen, Bos. Daripada kedinginan,'' seloroh jubir kerajaan. Gayung bersambut. Welcome party pun diadakan di istana Kuda Lanang. Sebagai seorang yang biasa beraktivitas, Limbuk Manuhara sekarang seperti burung dalam sangkar emas. Hanya jendela internet tempat dia mengekspresikan diri.

Seperti waktu itu, saat Limbuk online facebook, Bagong juga online. Sesekali, dia menyunggingkan senyum membaca celoteh Bagong. Balas-balasan kalimat jenaka terjadi di antara dua insan itu melalui jendela monitor komputer. Jari-jari Limbuk kian lincah menari pada keyboard. Eh, di belakangnya berdiri Sang Pangeran yang membaca semua yang sudah dia tulis. Tangan kokoh Pangeran merebut laptop itu. Brakk, barang itu hancur berbarengan dengan pecahnya hati Limbuk. Tak berhenti sampai di situ, Sang Pangeran tega menyayat-nyayat tubuh Limbuk Manuhara dengan pisau dapur. Air mata Limbuk menetes pedih. Dan lagi-lagi, adegan go home jadi pemungkas.

Memang love is blind alias cinta itu buta (dudu Buta Cakil, lho), Sang Pangeran balik menjemput. Kali ini lengkap dengan janji hitam di atas putih bahwa Limbuk tak bakal lagi disakiti. Setengah dipaksa Cangik, dengan berat hati, Limbuk Manuhara menerima. Perasaannya kian depresi, tertekan. Kecantikannya mulai luntur digerus waktu. Sementara, Sang Pangeran kian awet muda. Dia punya banyak girlfriend di mana-mana.

Kabar itu juga yang akhirnya sampai di telinga Limbuk Manuhara. Diam-diam dan tanpa air mata, Limbuk nylintis pergi tanpa pamit, pulang. Dalam pesawat, matanya tertarik pada sebuah majalah yang menceritakan perjalanan model Miss Manohara yang tersiksa aturan yang ketat. Dia langsung SMS Pangeran, minta untuk break dulu sampai tumbuh kedewasaan dan kemandirian di antara mereka.

Cinta itu ora keliru...Ia menjadi keliru ketika cinta berubah menjadi nafsu ingin menguasai yang mutlak. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono
jawa pos minggu 26 april 2009

Senjata Pusaka Gugat


''BOOOM!' Tiba-tiba suara itu terdengar. Kepanikan melanda warga sekitar gudang senjata Ngamarta. Para ibu berteriak memanggil anak-anaknya. Sebagian lagi mencoba menyelamatkan harta benda. Bau mesiu begitu dominan menyengat.

''Delapan Enam, siaga, ada ledakan di gudang senjata," suara Gatotkaca terde­ngar di setiap HT prajurit Ngamarta. Daerah sekitar ledakan langsung dipasang police line. Densus 66 dan pasukan anti bahan peledak diturunkan.

Antareja dan Gatotkaca dengan seragam khusus menyeruak masuk gudang di te­ngah pekatnya asap mesiu. Dengan kacamata infra red, Ga­totkaca detail meneliti kondisi senjata. Dan keduanya sa­ling pandang. ''Gak usah dibesar-besarkanlah, ini kejadian biasa. Karena suhu panas saja, semuanya aman terkendali, masih pada tempatnya," ujar Gatotkaca cepat sambil berlalu di bawah todongan puluhan lensa kamera.

Dengan mobil khusus, Gatotkaca dan Antareja menuju kediaman Panglima Tertinggi Puntadewa. ''Lapor boz! Ini agak nyolowadi, Rujak Polo, Sarotama, Lading

Mustika, dan Kunto Wijayandanu raib entah ke mana," ujar Antareja sambil

kembali meneliti catatan. ''Lha terus yang barusan di breaking news?'' selidik Puntadewa. Gatotkaca hanya nyengir kuda.

Puntadewa ambil langkah cepat, dikontaknya Jimat Kalimasada untuk mendeteksi keberadaan senjata-senjata itu dan membawanya kembali. Dengan permadani terbang Jimat Kalimasada melesat.

Sementara jauh di pinggiran Ngamarta, sosok tinggi besar Rujak Polo terlihat memimpin sesama rekan persenjataan. Rujak Polo dengan emosi tinggi menegaskan bahwa ini tidak bisa didiamkan terus menerus. Juragan mereka terlalu asyik bercuap-cuap di muka ribuan pendukung demi kursi Ngamarta Satu. Para juragan harus diingatkan bahwa mereka masih punya gegaman hasil lelaku me­reka yang perlu dijamasi juga. ''Ato katakan good bye sekalian, priben?" ujar Ru­jak Polo di akhir cerita.

Senjata-senjata itu ragu dan saling tatap. Tanpa keputusan yang jelas, peserta rapat bersenjata membubarkan diri. Panah Sarotama, senjata Arjuna Berbudi dengan kaca ray ban, berbalut tuxedo plus dasi yang serasi, ditemani senjata Srikandiwati, yaitu Lading Mustika yang lincah lenggak-lenggok seksi.

Mereka berjalan ke arah Tanah Abang, tempat di mana Arjuna Berbudi cuap-cuap di depan publik pendukungnya. ''Apa pun yang terjadi, perjuangan tetap harus dilanjutkan," lantang Arjuna Berbudi semangat.

Dari samping podium, Sarotama utik-utik seragam Arjuna Berbudi yang hanya cuek kibas-kibaskan ujung kainnya. ''Boss.. nih Sarotama. Masa forget, sich?" bisik Sarotama.

Dasar Kunto Wijayandanu, ikut ngutik-ngutik dari celah bawah podium yang bolong. Sarotama dari balik kaca matanya melotot marah. Disikutnya Kunto. Kunto sedikit melengoskan badannya, mendarat di bokong Arjuna.

Lama kelamaan Arjuna Berbudi terganggu dan langsung mencengkeram senjata itu. Arjuna sesaat mengawasi Kunto Wijayandanu dan di-sibrat-kan ke lantai. Jatuhnya Kunto langsung dipapas tendangan kuat kaki Sarotama. Saling balas pukulan pun terjadi. Ada darah yang memercik, Lading Mustika mbli­rit ketakutan.

Lading Mustika lari terengah-engah sampai Hall Senayan City. Dari jauh, diamatinya Srikandi Berwibawa paparkan program di tengah ribuan perempuan. Lading Mustika pelan jalan menyeruak di tengah barisan. ''Perempuan yang baik ya seperti saya, capres yang mudheng harga cabe kriting, minyak tanah, pokoknya komplet," suara Srikandi.

Hati Lading Mustika agak sedikit gamang melihat Srikandi dalam orasinya terus mengacung-acungkan pisau produk baru yang tajam tur anti karat sepanjang pemakaiannya.

Aksi potong bawang rame-rame pun dimulai. Wujud simbolisasi ekonomi kerakyatan, bahwasannya sebuah negara diibaratkan rumah. Salah satu nyawa dari rumah adalah tetap ngebul-nya dapur. Suara itu selalu keluar dari corong, coba menghipnotis semua perempuan yang hadir. ''Bunda Srikandi, saya Lading Mustika. Jangan lupain yang lama, dong Bun," ujar Lading Mustika tepat di sisi telinga Srikandi.

Cek kemek, Lading Mustika cepat dicengkeram Srikandi dan langsung dibanting. Lading Mustika nangis sejadi-jadinya membelah kerumunan. Di pinggiran, dua sahabatnya yang telah akur, Sarotama dan Kunto menyambutnya. ''Kiranya, juragan telah lupa dengan kita,'' ucapan Sarotama diiyakan Lading Mustika.

Tidak demikian dengan Kunto yang dengan tegas menolak semuanya. "Wow, beda dengan JK. Jendral Karno gak seperti itu," tegas Kunto.

Sementara, di semenanjung Nanggroe Aceh Darussalam. JK alias Jendral Karno dalam balutan busana Aceh, berorasi di tengah-tengah eks korban tsunami. ''Bagaimana pun, tangan saya lebih cepat turun pada waktu itu, kita atasi bareng" teriak Jendal Karno.

Dengan jumawanya, tangan JK selalu memegang hulu Rencong dan sesekali mengacungkannya untuk menyemangati. Sekali waktu tepat Rencong lengah, Kunto Wijayandanu melepaskan pukulan maut. Rencong memapas dengan auranya, pukulan Kunto Wijayandanu mbalik menyerang dirinya, dadanya hitam legam.

Hasil jerih payah laku tapa yang dulunya dilakukan untuk kemaslahatan rak­yat Ngamarta sekarang tergantikan dengan sesuatu yang nisbi. Jimat Kalimasada merengkuh ketiganya naik ke permadani terbang, atas permintaan mereka diturunkan pada perkampungan-perkampungan yang masih asri dan gu­yub rukun. ''Kembalilah menjadi pusaka rakyat dan mengayomi," bisik Jimat Kalimasada. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono
jawa pos minggu 21 juni 2009

Debat Punakawan


JALANAN begitu padat merayap. Setelah meliuk di sana-sini, lolos dari jebakan macet, terhampar pemandangan tumbuhan beton yang berlomba menjulang di kanan-kiri Jalan Sudirman, Ngamarta City.

Wajah Bagong terlihat tegang. Sebagai jurkam Bima Berbudi, dia berpikir keras. Apa lagi yang harus dia ndrasbul-kan di depan khalayak. Di mobil lain, Gareng dari pihak JK alias Jenderal Karna hanya memandang tingginya gedung-gedung dari balik black glasses. Dari arah lain, wakil Srikandi Berwibowo, Petruk, asyik mengelus-elus kuncirnya yang rasanya tambah memanjang saja.

Hampir berurutan, ketiga mobil memasuki lobi. Mereka saling diam dalam lift yang mengantarkan mereka ke lantai tujuh.

Setelah cuap-cuap sedikit kalimat pembuka, ''Wookeey... Dari Bagong dulu nich. Apa sich kelebihan Bima Berbudi?" tanya Narada Komarrudin. Sejenak Bagong terdiam. Selanjutnya, dia menghidupkan laptop yang dihubungkan dengan screen. Muncullah gambaran-gambaran tentang visi dan misi Bima Berbudi. ''Believe it, bro. We sangat menghargai kesucian alam sak isinya. Contreng kami,'' ucap Bagong pada pembukaan.

Alasan Bagong sungguh bisa dinalar. Calon presiden terbagus, tak lain adalah Bima. Bagaimana mungkin Bima bisa merusak alam? Lha wong sepanjang hidupnya habis untuk mencari air Purwita Sari. Dan air Purwita Sari adalah simbol pada penjagaan alam.

''Bagaimana dengan fenomena air...itu,... air lumpur! Apa itu juga kategori air yang dicari?'' ujar Narada Komarrudin penuh selidik.

Bagong terlihat menelan ludah. Diambilnya tissue dan diusapkan di sekitar dahinya. Bagong akhirnya mengambil jawaban netra. Bahwa sampai sekarang, air Purwita Sari sejatinya masih dicari. Bisa jadi pada akhirnya kita sepakat, mungkin air lumpur itu yang dimaksud dengan air Purwita Sari. Audience bertepuk tangan sangat riuh.

''Bagaimana dengan Lu, bro? Srikandi berbudi!'' ujar Narada Komarrudin. Kuncir Petruk langsung memercikkan sinyal. Dia mengatakan, para ibu sekarang sedang punya program menanam bunga, khususnya yang varietas lokal. Ke depan, bunga itu diprediksi bisa dinikmati anak-cucu. Teriakan ibu-ibu langsung memenuhi seluruh ruangan. Dalam kedinginannya, Petruk mencoba tersenyum. Manis, bok.

''Gak usah tanya! Sebagai jago taktik, manajemen zero budget money politics pada pilpres ini langsung kita terapkan,'' terang Gareng. Seluruh ruangan terasa tegang. Masing-masing asyik menggeluti pikirannya.

Bagong langsung komentar. Dari hasil browsing, terdeteksi ada money politics pada salah satu lembaga pemilihan umum. Merasa diserang, Gareng coba membalas. Ia mempertanyakan, berapa korban lagi yang akan jatuh akibat karut-marut manajemen transportasi. Petruk pun diserang Bagong. Sindirannya, menanam bunga tuh sama aja dengan memanen dividen dari badan usaha negara yang telah dijual beberapa tahun yang lalu. Suasana bertambah ramai. Hampir saja Gareng memukulkan sebuah kursi ke arah Bagong.

Semar masuk dan mendinginkan suasana. Semar meminta mereka boleh percaya, tapi jangan berlebih-lebihan. ''Coba kalian tengok, lagi ngapain bendara-bendara kalian," ujar Semar.

Setelah nomor tujuan di-dial tapi yang terdengar hanya tulalit, Bagong cepat mengambil binocular canggihnya. Terlihat Bima sedang indehoy dengan salah satu selingkuhannya, Urang Ayu. Dan karena rasa cinta itu, Bima mengorbankan separo hutan Pringgondani untuk dibalak. Demi menyenangkan Urang Ayu, Bima pun menghadiahi sebuah mobil mewah yang superluks. Glepek, Bagong lemes. ''Kang..looks this..ayo lah, Kang,'' rengek Bagong kepada Gareng. Gareng pun hanya ndlosor membaca berita pengungkapan money politics. Petruk pun ngurung diri di kamar. Maaf jago saya pernah jual banyak badan usaha, tulis Petruk pada kertas yang ter-centel di pintu kamar.

Tak ada yang sempurna. Tapi, pilih orang yang bisa mengerti negeri ini. Yang pernah direbut kemerdekaannya dengan tetes darah dan air mata. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono
jawa pos minggu 28 juni 2009